Senin, 04 September 2017

Pengaruh struktur organisasi terhadap peningkatan efektivitas kerja pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan


PENGARUH STRUKTUR ORGANISASI TERHADAP PENINGKATAN EFEKTIVITAS KERJA PADA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk MEDAN




Disusun Oleh:
Devi Luthfiana            021114169
Kelas : 6D-Manajemen






PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAKUAN
2017






BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Organisasi meupakan alat atau sarana untuk pencapaian tujuan yang  merupakan wadah kegiatan dari sekelompok atau kumpulan orang yang bekerja  sama dan berusaha untuk mencapai tujuan mereka bersama. Organisasi atau  perusahaan harus mampu mengeloladan mengatur manajemennya agar dapat bersaing dan bertahan pada era yang serba kompetitif sehingga dapat tumbuh dan  berkembang sesuai dengan tujuan perusahaan.
Setiap perusahaan baik yang bergerak dibidang produksi, jasa maupun  industri, pada umumnya memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan. Agar  dapat mencapai tujuan itu, perusahaan memerlukan sistem manajemen efektif  yang akan menunjang jalannya operasi perusahaan secara terus-menerus dan  tingkat efektivitas kerja karyawan juga perlu diperhatikan.
Pada umumnya perusahaan memiliki beberapa bagian, yakni bagian sumber  daya manusia, bagian pemasaran, bagian produksi, bagian keuangan, dan bagian  administrasi. Tiap-tiap bagian tersebut melaksanakan kegiatan yang berbeda tetapi  saling berhubungan satu sama lain.Tingkat kegiatan yang dilaksanakan  perusahaan akan mengalami perubahan dari suatu periode ke periode berikutnya.
Adanya perubahan tersebut mengharuskan manajemen mengadakan koordinasi  dalam suatu perusahaan dan menciptakan wadah yang merupakan alat komunikasi  antar bagian yaitu struktur organisasi.
Struktur organisasi disadari sangat penting peranannya dalam meningkatkan efektivitas kerja, sehingga penulis tertarik untuk memilih judul struktur organisasi dan efektivitas kerja sebagai objek pembahasan dalam makalah ini. Sedangkan alasan memilih PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan atau sering disebut dengan PT Telkom sebagai perusahaan yang akan diteliti adalah bahwa perusahaan tersebut merupakan sebuah perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi.
Perusahaan tersebut selalu menekankan motto agar karyawan memberikan pelayanan terbaik atau kualitas jasa yang terbaik kepada setiap pengunjung yang mempunyai karakter yang berbeda-beda. Perusahaan ini sudah berkembang cukup lama dan tetap mampu bertahan serta bersaing dengan perusahaan informasi dan komunikasi lainnya.
Pimpinan perusahaan PT Telkom Medan biasanya mengubah struktur organisasi berdasarkan perubahan bentuk dan kepemilikan organisasi tersebut setiap periodenya sesuai dengan perubahan kebutuhan organisasi demi mengurangi kesimpangsiuran dalam pelaksanaan tugas atau pekerjaan di perusahaan serta menjaga keefektifan aktivitas di perusahaan
Struktur organisasi disadari sangat penting peranannya dalam meningkatkan  efektivitas kerja, karena dalam struktur organisasi tersebut terdapat fungsi ataupun  pembagian tugas, departementalisasi,dan koordinasi. Pembagian tugas yang tepat  lebih berpeluang dalam menghasilkan keefektifitasan kerja karena pembagian  tugas itu lebih mengoptimalkan penggunaan sumber daya perusahaan, selain itu  pembagian tugas juga mengurangi tingkat kesalahan dan penumpukan beberapa  pekerjaan.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
  1.  Apa pengertian dari organisasi dan struktur organisasi?
  2. Bagaimana bentuk-bentuk struktur organisasi?
  3. Bagaimana pengaruh struktur organisasi terhadap efektivitas kerja karyawan pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan?

1.3.Tujuan
  1. Untuk mengetahui apa pengertian dari organisasi dan struktur organisasi
  2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk struktur organisasi.
  3. Untuk mengetahui pengaruh struktur organisasi terhadap efektivitas kerja karyawan pada PT Telekomunikasi Inodonesia Tbk Medan.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Definisi Struktur Organisasi dan Efektivitas Kerja
2.1.1.Definisi Struktur Organisasi
2.1.1.1.Definisi Organisasi
Menurut Robbins (1996) organisasi adalah suatu kesatuan sosial yang dikoordinasikan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar relatif untuk mencapai suatu tujuan bersama atau tujuan organisasi atau perusahaan. Snow & Hrebiniak menyebutkan bahwa organisasi adalah sekelompok dua atau lebih orang yang bekerja secara kooperatif ke arah tujuan umum untuk mengatur tujuan. Singkatnya, organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang tidak bisa dicapai apabila bekerja secara sendiri atau individu. Sedangkan menurut Martinelli, organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu bagian interaksi, terstruktur dan pengambilan keputusan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), organisasi adalah kesatuan atau susunan yang terdiri atas bagian-bagian dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan tertentu: kelompok kerjasama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja sama dengan memiliki sebuah struktur untuk mencapai tujuan bersama atau tujuan kelompok.

2.1.1.2.Definisi Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan yang diharapkan dan diinginkan.
Mintzberg mengatakan bahwa struktur organisasi menunjukkan bagaimana orang terorganisir atau bagaimana pekerjaan mereka dibagi dan dikoordinasi.
Menurut Robbins & Coulter (2007), struktur organisasi dapat diartikan sebagai kerangka kerja formal organisasi, yang dengan kerangka kerja tersebut, tugas-tugas dalam organisasi itu dapat dibagi-bagi, dikoordinasikan dan dikelompok-kelompokkan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan organisasi. Adapun struktur organisasi yang baik yaitu struktur organisasi yang mempu menciptakan keserasian dan keharmonisan kerja sehingga proses dalam mencapai tujuan organisasi tersebut dapat dengan mudah atau dengan kata lain tidak sulit untuk dicapai. Struktur organisasi juga merupakan suatu sistem yang harus dilaksanakan oleh manajer untuk menggerakan aktivitas organisasi agar dapat mencapai tujuan organisasi. Selain itu, sebuah stuktur organisasi juga perlu dievaluasi untuk mengetahui konsistensi dalam pelaksanakan kegiatan organisasi yang efektif dan efisien.
Menurut Gomez-Mejia dkk (2004), struktur organisasi merupakan hubungan yang bersifat formal maupun informal antar anggota dalam suatu organisasi. Sedangkan menurut Thompson & Strickland (1993), berpendapat bahwa struktur organisasi yang tepat bagi perusahaan sangat tergantung pada strategi bisnis yang dipilih.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa struktur organisasi merupakan suatu susunan pembagian kerja atau tugas dalam suatu organisasi agar kegiatan operasional organisasi atau perusahaan dapat terorganisir, terkontrol dan terkoordinasi. Adapun struktur organisasi yang tepat itu struktur organisasi yang sesuai dengan strategi bisnis yang ada atau yang dipilih.

2.1.2.Definisi Efektivitas Kerja
Efektivitas kerja merupakan suatu masalah yang kompleks. Ada banyak pengertian tentang efektivitas kerja, akan tetapi ciri yang sama dari berbagai pengertian yang diberikan yaitu menyangkut keberhasilan suatu kegiatan yang dilakukan dalam suatu organisasi.
Menurut Corrado (2004:135), efektivitas kerja adalah fungsi dari peraturan-peraturan dan praktik-praktik yang digunakan perusahaan dengan konsisten. Bentuk-bentuk konsistensi ini sebagai sumber kekuatan organisasi dan sebagai cara untuk memperbaiki kinerja dan efektivitas organisasi.
Menurut Pabundu (2006:16), efektivitas kerja adalah suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan manajemen yang efektif disertai dengan manajemen yang efisien. Siagian (2002:151) mengatakan bahwa efektivitas kerja adalah penyelesaian pekerjaan tepat waktu yang telah ditentukan, artinya pelaksanaan suatu pekerjaan dinilai Universitas Sumatera Utara baik atau tidak sangat tergantung pada penyelesaian tugas tersebut, bagaimana cara melaksanakan dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu.

2.2.Bentuk-bentuk Struktur Organisasi
Setelah mengetahui pengertian organisasi dan struktur organisasi, lalu bagaimana bentuk-bentuk dari struktur organisasi. Secara umum bentuk atau macam dari struktur organisasi itu ada enam macam yaitu bentuk garis atau lini, staff, lini dan staff, komite, matriks dan fungsional.
Dari keenam macam atau bentuk struktur organisasi di atas, semuanya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Selain itu keenamnya pun memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 
2.2.1.Struktur Organisasi Lini atau Garis
Struktur organisasi lini atau garis merupakan struktur organisasi yang dapat disebut struktur organisasi paling sederhana, karena bentuk struktur organisasi ini hanya memiliki garus komando vertikal dari tingkat paling atas melalui tingkat menengah lalu sampai ke tingkat bawah, sehingga hubungannya pun hanya terbatas antara atasan dengan bawahan. Struktur organisasi lini pun hanya memiliki posisi-posisi lini atau garis, tidak ada posisi staff yang tersedia. Seiring perkembangan zaman dan semakin kompleksnya di sunia bisnis saat ini, struktur organisasi macam ini sudah jarang ditemui di perusahaan-perusahaan yang besar dan menengah. Struktur organisasi jenis lini atau garis ini hanya dapat ditemui atau dijumpai di perusahaan-perusahaan kecil atau perusahaan-perusahaan yangbaru saja dirintis. Adapun contoh dari bentuk struktur organisasi lini atau garis adalah sebagai berikut:
Kelebihan struktur organisasi lini atau garis adalah sebagai berikut:
1.    Pusat komando berada di satu oarang, yaitu pimpinan
2.    Disiplin kerja mudah diawasi dan dipertahankan oleh pimpinan karena jumlah karyawannya relatif masih sedikit
3.    Memiliki rasa tanggungjawab yang besar karena garis komandonya langsung dari pimpinan
4.    Memiliki rasa solidaritas yang tinggi sesama anggota karena satu sama lainnya saling mengenal
5.    Tersedianya kesempatan yang baik bagi pimpinan untuk melatih bakat-bakat yang dimiliki bawahannya

Kelemahan struktur organisasi lini atau garis adalah sebagai berikut:
1.    Seluruh kegiatan dalam organisasi atau perusahaan biasanya tergantung pada satu orang yaitu pimpinan.
2.    Kesempatan anggota karyawan untuk mengembangkan keahlian atau spesialisasinya cukup terbatas.
3.    Pimpinan cenderung bersifat otoriter karena perusahaan dirasa milik pribadi.
4.    Rentang kendali yang sempit.
5.    Pembagian tugas dalam organisasi atau perusahaan cenderung tidak merata

2.2.2.Struktur Organisasi Lini dan Staff
Struktur ini dapat disebut struktur organisasi yang sederhana juga karena hampir sama dengan struktur organisasi lini atau garis. Hanya yang membedakannya adalah adanya tambahan yaitu berupa aktivitas staf ahli yang mendukung aktivitas struktur garis untuk menunjang pencapaian tujuan organisasi. Struktur organisasi lini dan staff ini memiliki perbedaan utama yaitu untuk aktifitas garis itu berperan langsung, sementara untuk aktivitas staff itu tidak berperan langsung dalam pengambilan keputusan. Aapun contoh bentuk struktur organisasi lini san staff adalah sebagai berikut:
Kelebihan struktur organisasi lini dan staff adalah sebagai berikut:
1.    Posisi garis terbebas dari aktivitas khusus yang dapat diberikan kepada karyawan dan staf.
2.    Fleksibilitas dari personel staf dapat memudahkan dalam melaksanakan sebuah proyek atau memudahkan dalam pencapaian tujuan organisasi.
3.    Dapat digunakan di perusahaan yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan dalam struktur organisasi lini.

Kelemahan struktur organisasi lini dan staff adalah sebagai berikut:
1.    Pimpinan lini sering mengabaikan saran dari personel staf.
2.    Konflik antara personel garis dan personel staf sering menjadi masalah.
3.    Perkembangan hubungan kerja antara posisi garis dan staf seringkali terhambat.

2.2.3.Struktur Organisasi Matriks
Struktur organisasi matriks merupakan struktur oganisasi yang biasanya dipakai untuk perusahaan yang cakupannya lebih besar lagi karena dalam strukturnya matriks ini meiliki dua garis komando yaitu kepada manajer dan manajer proyek. Adapun contoh bentuk struktur organisasi matriks adalah sebagai berikut:
Kelebihan struktur organisasi matriks adalah sebagai berikut:
1.    Pemanfaatan karyawan fleksibel sesuai dengan jenis kegiatannya.
2.    Sesuai untuk pengambilan keputusan yang sifatnya rumit atau cukup pelik.
3.    Memberikan kesempatan kepada personel untuk mengembangkan keterampilan fungsional maupun keterampilan integrasi atau koordinasi.
4.    Sesuai untuk organisasi atau perusahaan yang besar.


Kelemahan struktur organisasi matriks adalah sebagai berikut:
1.    Wewenang yang ganda membuat personel kebingungan bahkan frustasi.
2.    Perlu adanya pelatihan khusus agar karyawan yang berada dalam proyek khusus bisa terampil.
3.    Menghabiskan banyak waktu untuk koordinasi penyelesaian masalah.

2.2.4.Struktur Organisasi Komite
Organisasi komite adalah bentuk organisasi dimana tugas kepemimpinan dan tugas tertentu dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok pejabat, yang berupa komite atau dewan atau board dengan pluralistik manajemen.
Organisasi komite sering disamakan dengan istilah panitia, komisi, gugus tugas (task force atau task group). Terlepas dari istilah mana yang dipakai, pada dasarnya semua istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu sekelompok orang yang ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan khusus yang tidak dapat diselesaikan seorang pejabat atau oleh beberapa orang (dewan). Adapun contoh bentuk struktur organisasi komite adalah sebagai berikut:
Kelebihan struktur organisasi komite adalah sebagai berikut:
1.    Komunikasi dan koordinasi cenderung dapat terlaksana dengan baik.
2.    Kepimpinan yang bersifat otokratis kemungkinannya kecil untuk berkembang.
3.    Dalam hal pengambilan keputusan itu dilakukan secara hati-hati dengan melalui musyawarah dengan anggota.

Kelemahan struktur organisasi komite adalah sebagai berikut:
1.    Dalam hal pengambilan keputusan cenderung berjalan dengan lambat karena prinsip kehati-hatian tadi.
2.    Biaya operasional rutin sangat tinggi.
3.    Cenderung sulit dalam hal mengembangkan kreativitas karena tingginya asas kolektivitas.
2.2.5.Struktur Organisasi Fungsional
Struktur ini banyak ditemukan pada organisasi atau perusahaan yang mempunyai area spesialisasi sebagai dasar eksistensi sebuah departemen.
Dalam struktur organisasi fungsional ini dibagi menjadi 3 struktur yaitu:
1.    Fungsi organisasi: contohnya seperti bagian penelitian dan pengembangan atau litbang, pemasaran, dan semua fungsi organisasi yang bekerja sama berdasarkan fungsinya.
2.    Produk yang dihasilkan organisasi: setiap bagian hanya membuat satu jenis produk tetapi mempunyai seluruh fungsi organisasi secara lengkap.
3.    Daerah operasi: bagian yang ditentukan berdasarkan daerah operasi, misalnya kantor-kantor cabang dan sebagainya.
Adapun contoh bentuk struktur organisasi fungsional ini adalah sebagai berikut:




Struktur organisasi Fungsional-Fungsi Organisasi
Struktur Organisasi Fungsional-Produk
Struktur Organisasi Fungsional-Daerah Operasi
Kelebihan struktur organisasi fungsional adalah sebagai berikut:
1.    Sasaran atau tujuan dari tiap bagian mudah tercapai.
2.    Sesuai untuk organisasi yang kecil maupun besar.
3.    Ada ruang untuk mengembangkan keterampilan yang bersifat fungsional.

Kelemahan struktur organisasi fungsional adalah sebagai berikut:
1.    Pengambilan keputusan menumpuk pada puncak organisasi sehingga beban dari pimpinan cukup berat.
2.    Terbatasnya untuk hal inovasi.
3.    Koordinasi antar bagian kurang berjalan dengan baik.
4.    Dalam respon organisasi terhadap perubahan kondisi lingkungan itu responnya cenderung lambat.

2.3.Profil PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan
2.3.1.Sejarah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan atau sering disebut dengan PT Telkom adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa telekomunikasi untuk umum dan dalam negeri. Pada awalnya bernama ”Post En Telegraaf Dienst” yang didirikan pada tahun 1884 dengan Staat Blad nomor 52, kemudian pada tahun 1906 dirubah menjadi ”Post Telegraf and Telefoondiest (PTT)” dengan Staat nomor 359 dan semenjak itu disebut PTT Dienst. Tahun 1931 di tetapkan sebagai perusahaan negara berdasarkan I.B.W. Selanjutnya pada tahun 1960 pemerintah mengeluarkan peraturan pengganti Undang-Undang Nomor 19 tahun 1960 tentang persyaratan sebuah perusahaan negara (PN) dengan Perpu nomor 240 tahun 1961 berubah menjadi PN (Perusahaan Negara) Pos dan Telekomunikasi dan pada tahun 1965 terjadi pemecahan kembali menjadi PN Pos dan Telekomunikasi.
Perusahaan komunikasi berubah menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi yang disingkat dengan Perumtel mulai tanggal 28 April 1974 berdasarkan SK Menteri Perhubungan nomor 129/U/1070 PN. Perumtel dikukuhkan lagi dengan peraturan nomor 36 tahun 1974 yang menetapkan sebagai pengelola Telekomunikasi Umum dalam negeri dan luar negeri. Peraturan pemerintah nomor 22 tahun 1984 menetapkan Perumtel sebagai badan usaha yang diberi wewenang menyelenggarakan telekomunikasi bentuk umum dan Universitas Sumatera Utara internasional untuk lebih meningkatkan pelayanan jasa telekomunikasi untuk umum.
Peraturan pemerintah nomor 3 tahun 1983 tentang tata cara pembinaan dan pengawasan Perjan, Perum, dan Persero. Satu hal yang menggembirakan dalam sejarah perundang–undangan ini adalah ditetapkannya Undang-Undang nomor 3 tahun 1989 tentang Telekomunikasi yang memberikan angin segar dalam pengembangan dan pembangunan pertelekomunikasian di Indonesia.
Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 1991 tanggal 1 Mei 1991 menetapkan pengalihan untuk Perseroan (Persero). Tepat hari selasa 24 September 1991 pukul 09.30 peralihan bentuk perusahaan tersebut ditandai dengan penandatanganan akte pendirian perusahaan tersebut di PT Telekomunikasi Indonesia oleh Notaris Imas Fatimah S.H, bersama-sama dengan Menparpostel Soesilo Darman yang bertindak sebagai pemegang saham.
Penawaran umum perdana saham Telkom (Initial Public Offering/IPO) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. Sejak saat itu, kepemilikan saham Telkom tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) , Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham Telkom ini juga diperdagangkan di Tokyo Stock Exchange ( TSE ) namun dengan status tanpa pencatatan (Public Offering Wihout Listing/POWL). Empat tahun kemudian tepatnya tahun 1999, dibentuk UU nomor 36/1999 tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi. Pelepasan status monopoli telekomunikasi ini dilakukan oleh Telkom. Sekitar tahun 2001, Telkom membeli saham Telkomsel dari PT Indosat sebesar 35% sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Universitas Sumatera Utara Indonesia. Hal ini ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara Telkom dan Indosat. Dengan begitu, Telkom telah memiliki 72,72% saham Telkomsel. Telkom juga membeli saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangannya dalam laporan keuangan Telkom. Telkom membeli seluruh saham Pramindo melalui tiga tahap pada tahun 2002. Tahap I, pada saat penandatanganan jual beli saham (15 Agusutus 2002) sebesar 30%. Tahap II, pada tanggal 30 September 2003 sebesar 1%, dan sisanya 55% pada tanggal 31 Desember 2004. Kemudian Telkom menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom. Dengan demikian, Telkom hanya memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agusuts 2002, diselenggarakan duopoli antar telekomunikasi lokal.
Visi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
PT Telkom mempunyai visi “To become a leading InfoCom player in the region”. PT Telkom berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom terkemuka di kawasan Asia Tenggara, Asia, dan akan berlanjut ke kawasan Asia Pasifik.
Misi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
PT Telkom mempunyai misi memberikan layanan "One Stop InfoCom Services with Excellent Quality and Competitive Price and To Be the Role Model as the Best Managed Indonesian Corporation “ dengan jaminan bahwa pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik berupa kemudahan, produk dan jaringan berkualitas dengan harga kompetitif. PT Telkom mengelolah bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi Universitas Sumatera Utara yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara sinergis.
2.3.2.Struktur Organisasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan dalam melaksanakan kegiatannya memilki struktur organisasi yang merupakan pencerminan dalam pelaksanaan tugas-tugas di perusahaan. Hal ini penting dalam pembagian tugas dan kegiatan sehari-hari. Dengan adanya pembagian tugas dan tanggung jawab yang baik maka setiap pegawai dapat mengetahui dengan mudah apa fungsi dan tanggung jawabnya sehingga setiap penyimpangan dapat diatasi serta memudahkan dalam pengawasan.
Struktur organisasi yang digunakan pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan adalah struktur organisasi berdasarkan fungsi. Struktur organisasi berdasarkan fungsi (fungsional) adalah struktur organisasi yang didasarkan pada keterampilan dan keahlian sumber daya manusia. Di dalam perusahaan ini, setiap bagian disusun atas dasar kegiatan tiap-tiap fungsi sesuai dengan kepentingan perusahaan, tiap-tiap fungsi dan kegiatan seolah-olah terpisah berdasarkan bidang keahliannya padahal tiap-tiap fungsi atau kegiatan tidak dapat berdiri sendiri karena fungsi yang satu dengan lainnya saling memiliki ketergantungan.
  

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Struktur organisasi merupakan suatu susunan pembagian kerja atau tugas dalam suatu organisasi agar kegiatan operasional organisasi atau perusahaan dapat terorganisir, terkontrol dan terkoordinasi.
Struktur organisasi yang digunakan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan adalah struktur berdasarkan fungsi. Semua jenis tugas dan pekerjaan tidak dibebankan atau menjadi tanggung jawab GM(General Manager)/CEO (Chief Executive Officer) saja melainkan telah dibagi-bagi kepada para manajer sesuai dengan bidang-bidang yang telah ditentukan. Pendelegasian wewenang ini dilakukan untuk mengimbangi pembagian pekerjaan yang telah ditentukan.
3.2.Saran
Pihak manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan hendaknya lebih meningkatkan penerapan dari struktur organisasi sehingga efektivitas kerja lebih meningkat lagi untuk membantu terwujudnya hal yang menjadi sasaran/tujuan perusahaan dan terciptanya koordinasi kerja yang baik antar bagian di dalam PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Medan.


DAFTAR PUSTAKA


Selasa, 16 Mei 2017

PERILAKU KELOMPOK



TUGAS PERILAKU ORGANISASI
“PERILAKU KELOMPOK”



Disusun Oleh:
Graceyiella Christy     021114167
Yogi Joko Setyawan   021114168
Devi Luthfiana            021114169
M. Irfan Ikrimah P      021114172
Siti Rahmah                021114174
KELAS 6D - Manajemen




PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAKUAN
2017



KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang kepada-Nya kita menyembah dan kepada-Nya pula kita memohon pertolongan. Shalawat serta salam kepada Nabi Junjungan kita yakni Nabi besar Muhammad SAW Khatamun Nabiyyin, beserta para keluarga dan sahabat serta seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Dengan rahmat dan hidayah dari  Allah SWT kami diberikan kemampuan untuk menyelesaikan tugas dari Bapak Herman,SE.,MM untuk membuat makalah yang memuat materi tentang “Perilaku Kelompok”.
Ucapan terimakasih penyusun sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini. Kami menyadari  bahwa makalah ini kurang sempurna, maka dari itu apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini mohon dimaafkan dan semoga makalah ini dapat bermafaat bagi para pembaca, amin.




Bogor, Mei 2017
                                                                                                           Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Apabila berbicara tentang perilaku organisasi, berarti juga membahas tentang perilaku manusia. Manusia aalah pendukung utama setiap oerganisasi apapun bentuknya. Perilaku manusia yang berada dalam suatu kelompok atau organisasi adalah awal dari perilaku organisasi itu. Perilaku manusia yang terdapat di dalam organisasi berasal dari dua sumber, yaitu perilaku individu dan perilaku kelompok. Perilaku kelompok tersebut berasal dari perilaku individu-individu yang berkumpul menjadi sebuah kelompok.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa dipisahkandari kelompok. Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Setiap hari manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Pada umumnya, manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil mempunyai kecenderungan yang kuat untuk mencari keakraban dalam kelompok-kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, seringnya berjumpa, adanya kesamaan, kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain, sehingga mulailah mereka berkelompok dalam organisasi.
Dalam suatu organisasi bisa terdapat beberapa macam kelompok yang terbentuk melalui suatu proses tertentu. Kelompok mempunyai status dan norma yang memengaruhi perannya. Kelompok juga dapat berbeda menurut besaran dan kohesivitasnya. Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai perilaku kelompok dalam organisasi.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah;
1.        Apa sajakah klasifikasi perilaku kelompok?
2.        Apa manfaat perilaku kelompok dalam organisasi?
3.        Bagaimana contoh kasus tentang perilaku kelompok?

1.3.Tujuan Makalah
Beberapa tujuan yang akan dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  1.      Untuk mengetahui klasifikasi (tipe-tipe) perilaku kelompok dalam organisasi
  2.      Untuk mengetahui manfaat dari perilaku kelompok dalam organisasi
  3.      Untuk mengetahui contoh kasus dari perilaku kelompok dalam organisasi


  
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Perilaku Kelompok dalam Organisasi
2.1.1.  Definisi Perilaku
Secara etimologi, perilaku dalam bahasa inggris berarti “behavior”. Sedangkan secara terminologi, perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Menurut Toha, perilaku merupakan suatu fungsi dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Suatu perilaku dapat diobservasi ketika perilaku itu dapat dilihat dan terukur serta dapat dihitung dalam kaitan dengan frekuensi dan atau jangka waktu. Jadi, perilaku adalah aktifitas individu atau manusia sebagai reaksi terhadap lingkungannya yang dapat diamati.
2.1.2. Definisi Kelompok
Menurut Robbins (2009: 356) menyatakan bahwa kelompok (group) didefinisikan sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, bergabung untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Menurut  Muzafer Sherif, kelompok  adalah kesatuan  yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu.
Menurut De Vito (1997), kelompok merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apayang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggotanya.
Sementara Gibson (1995) memandang kelompok dari empat kelompok prespektif, diantaranya :
1.      Dari sisi persepsi, kelompok dipandang sebagai kumpulan sejumlah orang yang  saling berinteraksi satu sama lain, dimana masing-masing anggota menerima kesan atau persepsi dari anggota lain.
2.      Dari sisi organisasi, kelompok adalah suatu sistem terorganisasi yang terdiri dari dua atau lebih individu yang saling berhubungan dengan sistem menunjukkan beberapa fungsi, mempunyai standar dari peran hubungan di antara anggota.
3.      Dari sisi motivasi, kelompok dipandang sebagai sekelompok individu yang keberadaannya sebagai suatu kumpulam yang menghargai individu.
4.      Dari sisi interaksi, menyatakan bahwa inti dari pengelompokkan adalah interaksi dalam bentuk interpedensi.
Dari beberapa pandangan tersebut, Gibson menyimpulkan bahwa yang disebut kelompok itu adalah kumpulan individu dimana perilaku dan atau kinerja satu anggota dipengaruhi oleh perilaku dan atau prestasi anggota yang lainnya.
2.1.3. Definisi Organisasi
Secara etimologi, organisasi dalam bahasa inggris diartikan dengan “organization”. Sedangkan secara terminologi, banyak pendapat yang mendefinisikan mengenai organisasi.
Ø  Menurut James D. Mooney yang dikutip oleh Wursanto, organisasi diartikan sebagai “organization is the from of every human association for the attainment of common purpose”, yang artinya adalah organisasi merupakan bentuk dari setiap perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Ø  Menurut Alo Liliweri, organisasi adalah bentuk kerjasama yang sistematik antara sejumlah orang untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan bersama
Ø  Menurut Greenberg dan Baron yang dikutui oleh Wibowo, organisasi adalah sistem sosial yang terstruktur terdiri dari kelompok dan individu bekerja bersama untuk mencapai beberapa sasaran yang disepakati.
Dari difinisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerjasama antara individu maupun kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati.
2.1.4. Definisi Perilaku Kelompok dalam Organisasi
Dari pengertian perilaku dan pengertian kelompok diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku kelompok adalah aktifitas yang dapat diamati dari dua atau lebih manusia atau individu yang berinteraksi dan berkumpul untuk mencapai tujuan tertentu.
Manusia sebagai individu mempunyai watak, temperamen, sifat, dan kepribadian yang berbeda-beda. Apabila individu tersebut masuk menjadi anggota suatu kelompok, maka sifat, watak, temperamen dan kepribadiannya akan ikut dibawa masuk ke dalam kelompok. Dalam hal demikian maka akan terbentuk perilaku yang ada mulanya berorientasi kepada perilaku individu harus diarahkan dan dikendalikan ke arah perilaku yang berorientasi kelompok. Hal ini berarti perilaku individu harus diarahkan menuju kepentingan organisasi guna mencapai tujuan organisasi sehingga dalam perkembangan selanjutnya perilaku kelompok berkembang menjadi perilaku organisasi.
Perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang menginvestigasi dampak perilaku dari individu, kelompok, dan struktur dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan untuk memperbaiki efektivitas organisasi.
Jadi, perilaku kelompok dalam organisasi adalah aktifitas yang dilakukan dua atau lebih individu yang berkumpul dan berinteraksi sebagai anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tertentu yang telah disepakati.

2.2. Klasifikasi Kelompok
Kelompok-kelompok di dalam organisasi secara sengaja direncanakan atau sengaja dibiarkan terbentuk oleh manajemen selaku bagian dari struktur organisasi formal. Kendati begitu, kelompok juga kerap muncul melalui proses sosial dan organisasi informal. Organisasi informal muncul lewat interaksi antar pekerja di dalam organisasi dan perkembangan kelompok jika interaksi tersebut berhubungan dengan norma perilaku mereka sendiri, kendati tidak digariskan lewat struktur formal organisasi. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara kelompok formal dan informal.
1.      Kelompok Formal
Kelompok formal yaitu kelompok-kelompok yang didefinisikan oleh struktur organisasi, dengann penentuan tugas berdasarkan penunjukan penugasan kerja.  Kebutuhan dan proses organisasi menimbulkan formulasi tipe – tipe kelompok yang berbeda–beda. Khususnya ada dua tipe kelompok formal, di antaranya :
A.    Kelompok Komando (Command Group)
Kelompok komando ditentukan oleh bagan organisasi. Kelompok terdiri dari bawahan yang melapor langsung kepada seorang supervisor tertentu. Hubungan wewenang antara manajer departemen dengan supervisor, atau antara seorang perawat senior dan bawahannya, merupakan kelompok komado.
B.     Kelompok Tugas (Task Group)
Kelompok tugas terdiri dari para karyawan yang bekerja – sama untuk menyelesaikan suatu tugas atau proyek tertentu. Misalnya, kegiatan para karyawan administrasi dalam perusahaan asuransi pada waktu orang mengajukan tuntutan kecelakaan, merupakan tugas yang harus dilaksanakan.
2.      Kelompok Informal
Kelompok informal yaitu perhimpunan yang tidak terstruktur secara formal maupun secara organisasional. Dengan perkataan lain, kelompok informal tidak muncul karena dibentuk dengan sengaja, tetapi muncul secara wajar.
Orang mengenal dua macam kelompok informal khusus diantaranya:
A.    Kelompok Kepentingan (Interest Group)
Orang yang mungkin tidak merupakan anggota dari kelompok komando atau kelompok tugas yang sama, mungkin bergabung untuk mencapai sesuatu sasaran bersama. Para karyawan yang bersama – sama bergabung dalam kelompok untuk membentuk front yang terpadu menghadapi manajemen untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak dan pelayan wanita yang mengumpulkan uang persen mereka merupakan contoh dari kelompok kepentingan. Perlu diketahui juga tujuan kelompok semacam itu tidak berhubungan dengan tujuan organisasi, tetapi tujuan itu bersifat khusus bagi tiap – tiap kelompok.
B.     Kelompok Persahabatan (Friendship Group)
Banyak kelompok dibentuk karena para anggotanya mempunyai sesuatu kesamaan, misalnya usia, kepercayaan politis, atau latar belakang etnis. Kelompok persahabatan ini seringkali melebarkan interaksi dan komunikasi mereka sampai pada kegiatan diluar pekerjaan.
Jika Pola gabungan karyawan dicatat, maka akan segera menjadi jelas bahwa mereka termasuk dalam berbagai macam kelompok yang sering bersamaan. Maka diadakan perbedaan diantara dua klasifikasi kelompok yang luar:  kelompok formal dan informal. Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa kelompok formal (kelompok komando dan kelompok tugas) dibentuk oleh organisasi formal dan merupakan alat untuk mencapai tujuan, sedangkan kelompok informal (kelompok kepentingan dan kelompok persahabatan) adalah penting untuk keperluan mereka sendiri (artinya, mereka memenuhi kebutuhan pokok akan berkelompok).

2.3.Teori-teori Pembentukan Kelompok

Ø  Teori Kedekatan (Propinquity), menjelaskan tentang adanya situasi diantara orang-orang tertentu. Arti teori kedekatan ini adalah seseorang berhubungan dengan orang lain karena kedekatan ruang dan daerah (spatial and geographical proximity)
Ø  Teori George Homans, menjelaskan tentang semakin banyak aktivitas dilakukan seseorang dengan orang lain (shared), semakin beraneka interaksi semakin kuat tumbuhnya sentimen, semakin banyak interkasi semakin banyak kemungkinan aktivitas dan sentimen banyak pada orang lain, semakin banyak aktivitas dan sentimen ditularkan semakin banyak interkasi
Ø  Teori Keseimbangan (a balance theory of group formation) seseorang tertarik pada yang lain karena kesamaan sikap (nilai sikap yang sama: agama, politik, gaya hidup, perkawinan, pekerjaan, otoritas)
Ø  Teori Alasan praktis (Practicalities of group formation) alasan ekonomi, keamanan, alasan sosial. Sedangkan fase pembentukan kelompok pada dasarnya merupakan suatu rangkaian proses yang dinamis terdiri dari Forming (pembentukan), Storming (merebut hati), Norming (pengaturan norma), Performing (melaksanakan), Adjourning (pengakhiran)

Kelompok Dipandang dari Segi Organisasi
Para ahli sosiologi melihat kelompok terutama dari karakteristik keorganisasian. Salah satu definisi semacam itu adalah berikut ini:
Kelompok adalah suatu sistem yang terorganisasi yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berhubungan sedemikian rupa sehingga sistem tersebut melakukan fungsi tertentu, mempunyai serangkaian peran hubungan antara para anggotanya dan mempunyai serangkaian norma yang mengatur fungsi kelompok dari tiap-tiap anggotanya. Definisi ini menekankan beberapa ciri penting dari kelompok, seperti peran dan norma.
2.4.  Efektifitas Kelompok
Suatu kelompok yang efektif adalah satu pencapaian tingkat tinggi dari pemeliharaan kedua tugas sumber daya manusia dari waktu kewaktu. Dalam banyak hal pelaksanaan tugas, suatu kelompok yang efektif mencapai tujuan kinerja dalam pengetian standar tepat waktu dan hasil pekerjaannya berkualitas tinggi. Dalam banyak hal pemeliharaan sumber daya manusia, kelompok yang efektif adalah satu angotanya cukup dipenuhi dengan tugasnya, pemenuhan, dan hubungan antar pribadi bekerja baik bersama-sama pada suatu dasar yang berkesinambungan. Karena sebuah kelompok kerjapermanen dalam hal ini anggotanya bekerja bersama-sama untuk satu kelompok kerja temporer, ini berarti anggotanya bekerja bersama-sama untuk jangka waktu yang telah ditugaskan kepadanya.
2.5.  Dasar Efektifitas Kelompok
Efektivitas mengenai beberapa kelompok ditentukan atas sebagian masukan, makin baik masukan kelompok, makin baik kesempatan untuk efektivitas kelompok. Jika masukan kelompok memuaskan semuanya, kelompok mempunyai suatu dasar yang kuat dalam pencapaian efektifitas. Tetapi, jika sebagian dari input tidak memuaskan, usaha pencapaian efektivitas akan mengalami kekurangan dan masalah karateristik keanggotaan, dan ukuran kelompok yang akan mempengaruhi hasil dari operasi kelompok.
1.      Hal-hal lain untuk pengaturan yang terbaik dalam suatu kelompok meliputi: 
Tujuan yang menekankan pemenuhan kelompok
2.      Penghargaan yang mengenali pemenuhan kelompok
3.      Sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi tujuan
4.      Teknologi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan
5.      Pengaturan mengenai ruang yang mendorong kerjasama kelompok
6.      Kultur yang membuat kerjasama sekelompok suatu nilai penting
7.      Struktur yang mendukung kerjasama kelompok.

2.6.  Manfaat Perilaku Kelompok dalam Organisasi
Berbagai kelompok bekerja dalam suatu organisasi sebagai kesatuan-kesatuan yang jelas. Kelompok-kelompok itu mungkin merupakan kelompok-kelompok fungsional (misalnya orang-orang produksi, orang-orang pemasaran, para peneliti dan sebagainya), atau mungkin kelompok-kelompok vertikal (misalnya para kepala sekolah dan para guru, para manajer senior, para pekerja dan sebgainya). Berbagai kelompok dalam organisasi bekerja bersama-sama. mereka memikul tanggungjawab bersama dan menangani masalah-masalah dalam bidang mereka sendiri demi tercapainya tujuan organisasi.
Menurut Wursanto, manfaat yang didapat dengan adanya suatu kelompok antara lain:
a.       Kelompok dapat memberikan rasa aman bagi seseorang (sense of security) karena merasa mempunyai perlindungan
b.      Kelompok dapat mengatasi berbagai macam persoalan baik yang menyangkut bidang ekonomi, polituk, hukum, dan sebagainya
c.       Kelompok dapat memberikan martabat (prestige), status sosial (social standing), dan pengakuan
d.      Kelompok dapat memberikan dorongan dan semangat (motivasi)
e.       Kelompok dapat memberikan kepuasan, baik kepuasan yang bersifat jasmani, kepuasan psikologis maupun kepuasan sosial
f.       Kelompok dapat memberikan bantuan seseorang yang dalam kesulitan

2.7.  Ciri-Ciri Kelompok
Untuk memahami perilaku kelompok, kita perlu mengetahui ciri-ciri umum kelompok, mulai dari urutan berikut ini.
1.      Struktur
Dalam setiap kelompok berkembang beberapa tipe struktur; para anggota kelompok dibedakan atas dasar faktor-faktor seperti keahlian, kekuasaan, status dan sifat agresif. Tiap anggota menduduki posisi tertentu dalam kelompok. Pola hubungan antara posisi ini merupakan struktur kelompok.
2.      Hirarki Status
Istilah status sangat mirip dengan posisi, sehingga kedua istilah itu sering digunakan dalam arti yang merupakan konsekuensi dari karakteristik tertentu yang membedakan posisi yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan status memiliki pengaruh yang sangat besar atas pola dan isi komunikasi yang cenderung lebih bersifat positif daripada yang diprakarsai oleh orang-orang yang berstatus tinggi terhadap orang-orang yang berstatus lebih rendah.
3.      Peran
Setiap posisi dalam kelompok mempunyai peran yang saling berhubungan, yang terdiri dari perilaku yang diharapkan dari mereka yang menduduki posisi tersebut. Perilaku yang diharapkan umumnya sudah disetujui tidak hanya oleh mereka yang menduduki posisi tersebut, tetapi juga oleh anggota lain dalam kelompok itu.
4.      Norma atau Peraturan
Norma adalah standar yang diterima oleh anggota kelompok yang mempunyai karakteristik tertentu atau suatu peraturan yang tidak tertulis. Pertama, norma hanya dibentuk sehubungan dengan hal-hal yang penting bagi kelompok. Jika dapat membantu anggota lain dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas merupakan hal yang paling penting, maka akan berkembanglah suatu norma. Kedua, norma diterima dalam berbagai macam tingkat oleh para anggota kelompok, ada beberapa norma diterima oleh para anggota secara lengkap, sedangkan norma lain hanya diterima sebagian. Dapat dikatakan bahwa norma merupakan kesepakatan yang menjadi aturan yang tidak tertulis, tetapi tersirat dan dipahami sesama anggota kelompok
5.      Kepemimpinan
Peran kepemimpinan dalam kelompok merupakan suatu karakteristik penting dalam kelompok. Dalam kelompok formal, pemimpin dapat menjalankan kekuasaannya secara resmi. Dalam kelompok informal pemimpin dianggap sebagai orang yang berwibawa dan dihormati karena dianggap dapat membantu kelompok mencapai tujuannya, sebagai fasilitator yang dapat menyelesaikan konflik di antara kelompok dan anggotanya. Pemimpin informal seringkali dapat berganti-ganti karena situasi yang berbeda-beda, juga karena alasan kaderisasi (senoritymenghargai juniority), sehingga kesinambungan kepemimpinan dapat berjalan terus.
6.      Kesatupaduan
Kesatupaduan dipandang sebagai suatu kekuatan yang memaksa para anggota untuk tetap berada dalam  satu kelompok. Dengan kekuatan yang terpadu dari masing-masing anggota kelompok akan merupakan efek berganda dari potensi yang ada (multiplier effect).
7.      Kesatupaduan dan Hasil Karya
   Konsep ini merupakan konsep yang penting memahami kelompok dan organisasi. Karena dapat menciptakan pengaruh yang positif atau negatif, tergantung sampai  seberapa jauh kesamaan tujuan kelompok dan organisasi formal.

2.8.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Kelompok

Menurut Gito Sudarmo (2000:66) prestasi kelompok dapat dipengaruhi oleh dua hal yakni faktor eksternal dan faktor internal.

1.    Faktor Eksternal
  •   Strategi organisasi, setiap organisasi mempunyai strategi. Setiap strategi yang ditetapkan  oleh organisasi akan mempengaruhi perilaku kelompok dalam organisasi tersebut.
  • Struktur wewenang, setiap organisasi memiliki struktur wewenang kepada siapa seseorang  melapor, siapa yang membuat keputusan. Struktur ini menentukan dimana posisi suatu  kelompok tertentu dalam hirarkhi organisasi.
  • Peraturan, semakin banyak peraturan formal yang ditetapkan oleh organisasi pada semua  pekerjanya, maka perilaku kelompok akan semakin konsisten dan dapat diramalkan. -  Sumber-Sumber Organisasi, besar kecilnya sumberdaya yang ada dalam organisasi yang  diberikan kepada 52 anggotanya hal ini akan mempengaruhi perilaku prestasi kelompo
  • Proses Seleksi, Proses seleksi menjadi faktor penting dalam menjaring orang-orang yang    berkualitas. Dan hal ini pula akan dapat mempengaruhi perilaku dan prestasi kelompok
  • Penilaian Prestasi dan Sisitem Imbalan, adanya sistem imbalan yang mengkaitkannya dengan prestasi dari kelompok kerja akan mempengaruhi perilaku kelompok tersebut.
  • Budaya Organisasi, setiap organisasi memiliki kebiasaankebiasaan yang tidak tertulis yang  mentukan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pekerja
  • Lingkungan Fisik, Ruangan yang tetata dengan baik, suhu udara dan lain-lain akan  mempengaruhi perilaku kelompok.

2.    Faktor Internal
a.    Kemampuan
b.    Karakteristik Kepribadian

2.9.  Contoh Kasus Perilaku Kelompok
Kelompok didalam universitas yang terdiri dari dosen, mahasiswa, karyawan dan para pemimpin kampus harus dapat saling bekerja sama untuk mewujudkan tujuan organisasi. Organisasi akan cepat mencapai tujuanya apabila ada keterpaduan antara tujuan kelompok tersebut dengan tujuan organisasi.
Keterpaduan dalam kerjasama antra kelompok dalam organisasi tidak mungkin didapatkan apabila tidak ada keterpaduan individu-individu dalam sebuah kelompok. Tidak hanya ketepaduan antara individu dalam kelompok tersebut, tetapi harus ada komitmen yang sama antar anggota kelompok. Disini adalah point utama yang menyebabkan konflik dalam studi kasus diatas. Masalah pemukulan yang dilakukan oleh dosen (seorang individu bagian dari kelompok dosen) terhadap seorang mahasiswa (Seorang individu yang merupakan bagian dari kelompok mahasiswa). Ini disebut juga konflik antar individu yang ada dalam sebuah organisasi. Menurut Kast (2000), konflik antar individu dalam organisasi disebabkan oleh perbedaan peranan dan kepribadian. Jelas bahwa antara dosen dan mahasiswa mempunyai peran yang berbeda. Dosen mempunyai peranan untuk mengajar dan mendidik mahasisawa, sedangkan mahasiswa mempunyai peranan untuk menghargai dosen dan partisipatif aktif dalam perkulihan. Perbedaan peranan tersebut memang sudah diatur oleh organisasi agar spesialisasi dalam sebuah kelompok dapat membantu untuk melakukan tugasnya dengan efektif dan efisien.


BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Manusia sebagai individu mempunyai watak, temperamen, sifat, dan kepribadian yang berbeda-beda. Apabila individu tersebut masuk menjadi anggota suatu kelompok, maka sifat, watak, temperamen dan kepribadiannya akan ikut dibawa masuk ke dalam kelompok. Dalam hal demikian maka akan terbentuk perilaku yang ada mulanya berorientasi kepada perilaku individu harus diarahkan dan dikendalikan ke arah perilaku yang berorientasi kelompok. Hal ini berarti perilaku individu harus diarahkan menuju kepentingan organisasi guna mencapai tujuan organisasi sehingga dalam perkembangan selanjutnya perilaku kelompok berkembang menjadi perilaku organisasi.
Kelompok didalam universitas yang terdiri dari dosen, mahasiswa, karyawan dan para pemimpin kampus harus dapat saling bekerja sama untuk mewujudkan tujuan organisasi. Disini adalah point utama yang menyebabkan konflik dalam studi kasus diatas. Masalah pemukulan yang dilakukan oleh dosen (seorang individu bagian dari kelompok dosen) terhadap seorang mahasiswa (Seorang individu yang merupakan bagian dari kelompok mahasiswa). Ini disebut juga konflik antar individu yang ada dalam sebuah organisasi. Jelas bahwa antara dosen dan mahasiswa mempunyai peran yang berbeda. Dosen mempunyai peranan untuk mengajar dan mendidik mahasisawa, sedangkan mahasiswa mempunyai peranan untuk menghargai dosen dan partisipatif aktif dalam perkulihan.

3.2. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini para pembaca dapat lebih mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai perilaku organisasi khusus nya masalah perilaku kelompok dalam organisasi.





DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/29723729/Perilaku_Kelompok_Dalam_Organisasi
http://ulfahafiatusholihah.blogspot.co.id/2012/04/contoh-kasus-perilaku-organisasi.html